Monday, November 17, 2014

Satu lagi film karya sutradara asal Negeri Paman Sam, Joshua Oppenheimer, ditayangkan di Indonesia, The Look of Silence atau film Senyap. Film Senyap diputar pertama kali di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (10/11) lalu. Pemutaran film dan konferensi pers ini turut dihadiri oleh para korban tragedi 1965 serta beberapa orang aktivis yang selama ini “peduli” dengan nasib korban 1965.
Film Senyap merupakan film dokumenter mengenai pembantaian massal tahun 1965 di Sumatera Utara. Film tersebut mengisahkan keluarga Adi Rukun yang mendapatkan pengetahun mengenai bagaimana kakaknya dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Sebagai adik bungsu, Adi bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya. Pemutaran perdana film ini juga mengundang para korban pelanggaran HAM tahun 1965 dari Panti Jompo Waluyo Sejati di Kramat Jati, Jakarta.
Film Senyap meraih Penghargaan Utama Juri (Grand Jury Prize) dalam Festival Film Internasional Venezia ke-71 (Venice International Film Festival) di Italia. Film Senyap diproduksi oleh lima negara, yaitu Denmark, Indonesia, Norwegia, Finlandia, dan Inggris. Selain memenangkan salah satu penghargaan utama tersebut, film Senyap juga memenangkan hadiah lainnya, yaitu FIPRESCI Award (Penghargaan Federasi Kritikus Film Internasional) untuk film terbaik, Mouse d’Oro Award (Penghargaan Kritikus Online) untuk film terbaik, Fedeora Award (Federasi Kritikus Film Eropa dan Mediterania) untuk film terbaik Eropa-Mediterania, dan Human Rights Nights Award untuk film terbaik bertema Hak Asasi Manusia (HAM). Film Senyap menjadi film dokumenter pertama yang memenangkan penghargaan Mouse d’Oro dan menerima penghargaan sebagai film bertema HAM terbaik bersama film “Io Sto con la Sposa” karya Antonio Augugliaro, Gabriele Del Grande, dan Khaled Soliman Al Nassiry.
Dalam acara ini, sangat disayangkan adanya pernyataan yang menyatakan, pihaknya melakukan pemutaran perdana film Senyap sebagai salah satu rangkaian dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia pada Desember nanti, dan sekaligus akan menyebarkan film tersebut ke lembaga negara dan lembaga swadaya masyarakat lainnya. Pernyataan ini seakan-akan menisbikan atau menghilangkan fakta bahwa banyak versi terkait tragedy 1965 yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan apapun juga.
Melalui Skype, sutradara Joshua Oppenheimer mengatakan, melalui film Senyap ia ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa lari dari masa lalu. Kita selalu mendengar dari orang-orang, biarkan masa lalu menjadi masa lalu, padahal itu tidak benar. Masa lalu belum bisa berlalu jika masih menjadi ancaman. Kita tidak bisa lari dari sejarah karena sejarah selalu akan lari lebih cepat dari kita. Kita tetap akan dihantui sejarah kecuali jika kita menghadapinya dan mengakui bahwa yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar. Indonesia perlu melakukan rekonsiliasi untuk menghadapi masa lalu. Apa yang dibutuhkan Indonesia bukanlah proses identifikasi siapa yang berpartisipasi dalam pelanggaran HAM, tetapi yang paling penting adalah pengakuan atas kebenaran dan rekonsiliasi. Semoga pemutaran film Senyap dapat mendorong upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM pada masa lalu, termasuk saat Tragedi 1965 dan komitmen untuk menghapus semua bentuk impunitas. Semoga film ini mampu mempercepat upaya-upaya itu, dan yang paling penting, mari dukung Presiden baru jika dia ingin menyelesaikan masalah HAM agar pemerintah Indonesia secara resmi mengakui apa yang terjadi dan meminta maaf serta memulai proses rekonsiliasi.

Patutkah Dipercaya ?
Film The Look of Silence (Senyap) merupakan film dokumenter kedua Joshua Oppenheimmer setelah film The Act of Killing (Jagal) yang juga merupakan film yang berupaya untuk “mempolitisir” pelanggaran HAM di Indonesia, karena melalui film Senyap ini, pembuat naskah, sutradara termasuk pihak-pihak yang mendanai pembuatan film ini ingin mengajak masyarakat Indonesia agar mengingat kembali dan menuntut penyelesaian Tragedi 1965, yang hingga saat ini masih menjadi tuntutan para korban 1965 setiap memperingati tanggal 30 September dan peringatan Hari HAM. Film Senyap juga dibuat untuk mengupayakan rekonsiliasi dan menuntut permintaan maaf dari para pelaku terhadap para korban Tragedi 1965.
Namun, kalangan pengamat masalah perfilman ataupun sejarahwan tampaknya perlu didengarkan aspirasi dan pendapatnya terkait film yang “sarat dengan nilai-nilai propaganda” ini apakah layak disebut dengan film ataukah sekedar “pamphlet digital” yang berisi propaganda. Jika film ini tidak dimaksudkan sebagai propaganda, maka seharusnya Joshua Oppenheimer tidak perlu mengeluarkan “kata pengantarnya” melalui skype tapi langsung datang ke Indonesia menghadiri pemutaran film tersebut, termasuk co sutradara yang disebut-sebut adalah orang Indonesia namun menggunakan “anonym” juga sangat janggal dalam pembuatan film atau tidak sesuai dengan kode etik pembuatan film. Bagaimanapun juga pembuatan film harus berdasarkan naskah dan scenario yang bebas dari kepentingan, apalagi kepentingan politik praktis juga menerapkan prinsip “cover both sides”, namun film ini hanya mengeksploitasi satu pihak saja.
Penulis memperkirakan, pemutaran film Senyap akan menyebabkan kalangan eks PKI merasa bahwa tindakannya di era Orde Lama adalah benar, walaupun mereka tidak menyadari bahwa melalui film tersebut merupakan propaganda dalam membentuk kesa baru di kalangan eks PKI dan simpatisannya dengan tujuan untuk membuka memori lama bangsa Indonesia terkait tragedi 1965. Kemenangan film Senyap di beberapa event internasional sebenarnya tidak serta merta menjadi bukti bahwa film tersebut bermutu, karena penilaian dalam berbagai forum internasional tidak dapat dilepaskan dari “vested interest” kelompok tertentu terhadap Indonesia. Selain itu, tidak disebutkannya nama kru atau sumber (anonim) merupakan contoh film yang tidak baik. Seharusnya, nama-nama kru tetap disebutkan sebagai bukti bahwa film tersebut memang berkualitas baik. 
Menurut penulis, Dewan Kesenian Jakarta juga harus bertindak tegas. Jangan hanya mendukung film-film tentang Indonesia tanpa melihat sisi lain di balik pembuatan dan pemutaran film tersebut. Setiap film, terutama yang dibuat oleh asing harus benar-benar diteliti terlebih dahulu, jangan sampai dijadikan media propaganda untuk mengganggu perdamaian yang sudah kondusif saat ini. Ke depan, pembuatan film-film terkait sejarah Indonesia oleh warga negara asing harus tetap diawasi agar tidak terjadi penyimpangan sejarah, terutama terkait masalah sejarah yang masih berdampak hingga sekarang. (*)

* Penulis adalah pemerhati masalah perfilman nasional dan pemerhati masalah Polkam Indonesia.
Pada jaman Bani Israil, ada seorang perempuan yang sangat cantik. Lekuk-lekuk tubuhnya menggiurkan, dan dia amat pandai mempergunakan kecantikannya untuk memikat laki-laki. Tidak sedikit pria baik-baik tergiur dalam rayuannya.
Pintu rumahnya senantiasa terbuka. Dengan sikap serta pakaian yang merangsang, dia duduk di atas tempat tidur. Kain seprenya bewarna merah muda. Senyum manisnya selalu terhambur kepada siapa saja. Tempat tidurnya dapat terlihat dari arah pintu.
Setiap laki-laki yang lewat dan melihatnya, pasti akan tergetar birahinya. Seringkali dari pandangan yang sekilas itu para laki-laki tersebut begitu terangsang hawa nafsunya.  Akibatnya, dengan segala cara mereka mengumpulkan uang, paling tidak sepuluh dinar untuk memasuki rumah perempuan itu.
Suatu ketika ada seorang alim muda melewati depan pintu rumahnya. Alim ini adalah seorang santri yang tekun beribadah. Namun, begitu bertatapan mata dengan perempuan itu, tubuhnya berkeringat. Pandangannya terpaku kepada wajah yang halus dan tersenyum itu.
Dengan segala kemampuan tekadnya, dia mencoba memerangi perassaannya sendiri. Di meminta kepada Allah supaya melenyapkan hawa nafsu yang rasanya sudah hampir meledak. Namun, ia tidak mampu mengendalikan diri. Tubuh yang indah itu. Mata yang tajam itu. Bibir yang mungil itu. Bayangan-bayangan semacam itu terus membayanginya sepanjang perjalanan.
Akhirnya, si alim muda itu nekad. Akhirnya semua pakaiannya dijual, juga semua miliknya yang lainnya. Karena masih kurang dari sepuluh dinar, dia smpai berhutang ke kiri-kanan. Begitu terkumpul uang yang dikehendaki, ia buru-buru berangkat. Saking tidak kuatnya menahan diri, sampai ia lari terengah-engah.
Begitu tiba dirumah perempuan itu,  ia disuruh menyerahkan uangnya kepada perempuan yang berada di kamar sebelah. Waktu ia kembali ke tempat perempuan tersebut, pelacur itu sudah bersolek lebih cantik lagi. Ia sengaja membuka sebagian auratnya agar lebih merangsang. Lalu,ia terbaring di tempat tidurnya.
Si alim muda, begitu melihat lawan jenis yang meruntuhkan imannya itu telah siap di tempat tidur, buru-buru mendekat dan duduk di sebelahnya. Gemetar tubuhnya mengalami kejadian yang baru pertama kali ini. Namun, rupanya Tuhan masih sayang kepadanya. Rahmat Allah teriring sebagai balasan bagi ibadahnya yang tekun dan tobatnya yang sungguh-sungguh pada masa lalu.
Ketika tangannya telah hendak terjulur memeluk perempuan itu, tiba-tiba badannya menggigil, dan ketakutan dalam hatinya. Bergema di segenap jiwanya bahwa Tuhan melihat keadaannya sekarang dan mengawasi semua tindak-tanduknya. Berubah wajahnya seketika, pucat bagaikan putih salju. Si perempuan, waktu melihat warna muka alim muda tersebut, sangat kuatir dan heran. Ia bertanya,
“Apa yang telah terjadi padamu? Sakit?”
“Tidak. Saya takut kepada Allah. Izinkanlah saya pergi.” Jawab si santri ketakutan.
“Ha! Gila! Berapa laki-laki yang kepingin seperti ini sampai mengemis ngemis. Sedangkan kau, sudah teruskan saja, mau dibatalkan? Tidak bisa.”
“Sungguh,saya takut kepada Allah. Biarlah yang sepuluh dinar saya serahkan kepadamu. Asal kau izinkan saya keluar.”
“Tapi tidak begini saja bukan? Ayo…!”
“Tidak, tidak. Cukup begini saja. Saya takut kepada Allah.”
Karena heran, perempuan itu pun lalu bertanya,
“Dimana engkau tinggal? Siapa namamu?”
Sesudah pertanyaan ini dijawab, barulah santri itu diperbolehkan keluar. Setiba dirumahnya, santri itu menangisi dosanya dan bertobat kepada Allah.
Adapun keadaan perempuan sepeninggal santri tersebut, jauh berbeda dari sebelumnya. Biasanya ia tidak dapaat berpikir tentang dosa dan maksiat. Ia hanya tahu bersenang-senang saja. Tetapi berkat pergaulannya yang sangat singkat dengan pemuda ahli ibadah tadi, tumbuh rasa takut yang besar dari waktu ke waktu. Dalam batinnya ia berkata sendiri,
“Laki-laki itu baru saja berbuat dosa, dia sudah ketakutan seperti itu. Padahal aku sudah berlaku hina sejak bertahun-tahun lamanya. Berapa banyak dosa yang telah kulakukan? Mestinya aku harus lebih takut daripada dia, karena Tuhan yang ditakutinya adalah Tuhanku juga.”
Dengan pikian-pikiran semacam itu, akhirnya perempuan tersebut berhenti dari pekerjaan hinanya. Ia bertobat sama sekali. Pintu rumahnya selalu terkunci. Dan pakaian-pakaian yang merangsang dibuangnya. Dengan tekun ia beribadah siang malam,mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah ditinggalkannya selama ini.
Sementara itu, ikatannya tidak pernah lepas dari pemuda alim yang menaklukannya. Ia berpikir, “Andaikata aku dapat kawin dengannya pastilah aku bisa dipimpinnya untuk beribadah lebih baik.”
Karena tekadnya sangat kuat untuk menemukan pemuda itu, maka ia pun bersiap-siap mengadakan perjalanan jauh. Dikumpulkammya harta benda serta kekayaannya. Bujang-bujangnya diperintahkan untuk mengawalnya. Hari itu pula kafilah itu berangkat, mencari kampung tempat tinggal si alim muda.
Sesudah menempuh jarak berhari-hari, sampailah mereka di kampung yang dituju. Seseorang memberi kabar kepada si alim, bahwa ada seorang tamu mencarinya. Alim itu keluar menyongsong tamu yang dimaksud.
Begitu bertemu dengan si alim tersebut, karena sangat gembira, perempuan itu buru-buru menutup wajahnya. Alim itu terpekik kaget. Tergambar kembali ingatan lamanya saat ia hampir terjerumus melakukan dosa besar. Dia takut kepada Allah, dan dia malu, malu sekali. Saking terperanjat dan tidak disangka-sangka dari semula, putuslah urat jantungnya dan ia tewas saat itu juga.
Perempuan itu menjerit sedih. Dengan cepat, ia menubruk si alim. Namun pemuda itu sudah tidak bernyawa lagi. Ia pun menangis menyesali dirinya. Mengapa musibah ini terjadi, padahal kedatangannya dengan maksud baik?
Dengan biaya ditanggung seluruhnya oleh perempuan itu, mayat si alim dikuburkan baik-baik. Setelah selesai masa berkabung, perempuan itu lantas berkata,
“Saudara-saudara sekalian, kedatangan saya kemari sebetulnya ingin menjadi istri almarhum. Tapi ternyata takdir lebih berkuasa. Karena itu, apakah kiranya dia mempunyai saudara laki-laki yang mau memperistri saya?”
Orang-orang menjawab,”Ada, dia punya abang belum beristri. Dia orang yang saleh, cuma kelewat miskin.”
Perempuan itu menjawab, “Itu tidak jadi soal. Hartaku cukup untuk menjamin makan kami berdua sampai mati.”
Maka kawinlah perempuan itu dengan abang si alim. Mereka hidup bahagia smapai tua, dan dari perkawinannya lahir tujuh orang anak laki-laki. Semuanya menjadi pemimpin yang saleh di kalangan Bani Israil, berkat pendidikan dan lingkungan yang baik.
Hal ini sejalan dengan janji Allah bahwa semua dosa, betapapun besar dan kejinya, pasti akan diampuni oleh Allah, kecuali dosa menyekutukan Allah dengan yang lain, baik di dalam peribadatan maupun waktu memohon doa. Menyekutukan Allah sama artinya dengan memfitnah Allah dan menuduh Allah seolah-olah Allah tidak punya daya dan kuasa apabila tidak dibantu oleh sekutu-sekutu-Nya.
Sedangkan, dosa yang dilakukan oleh perempuan itu adalah dosa Adami, dosa yang dikerjakan dengan menyesali perbuatanya dan mengakui kekejiannya, serta dilakukan dengan dorongan hawa nafsu, bukan denan niat menentang hukum dan peraturan Allah. (*)

Sunday, November 16, 2014

Petang itu, selepas menunaikan shalat ashar Rasulullah SAW duduk-duduk di dalam masjid bersama sejumlah sahabat. Tiba-tiba terdengar hentakan-hentakan kaki unta menjejak tanah di luar masjid. Seperti tergesa-gesa unta itu dihentikan mendadak. Lalu penunggangnya melompat sigap dan langsung memburu kedalam masjid.
Rasulullah terperanjat. Begitu pula para sahabatnya. Sebab laki-laki itu sudah membukamulut sebelum berbasa basi. Bahkan ia tak mengenalkan diri terlebih dahulu ketika berkata:
“Aku sudah melakukan perjalanan selama Sembilan hari, siang dan malam. Aku menahan dahaga pada waktu siang. Aku menahan waktu di waktu malam. Dan untaku diluar itu telah kulecut agar berlari lebih cepat,” ujar lelaki tersebut dengan nafas tersengal-sengal.
Rasulullah menerimanya dengan ramah. Dipersilahkannya lelaki itu agar duduk bersamanya. Namun, dengan masih berdiri ia melanjutkan bicaranya:
“Semua itu kulakukan karena aku ingin menanyakan dua perkara kepadamu.”
:Silahkan,” jawab Nabi.
“Pertama, katakana padaku bagaimana cirri-ciri yang disukai Allah. Kedua, bagaimana pula cirri-ciri manusia yang dibenci Allah.”
Para sahabat saling berpandangan. Selama ini tak terpikirkan olehmereka untuk menanyakan masalah itu. Rasulullah menganggik-angguk. Ia mengagumi keterbukaan lelaki itu.maja, ia ingin tahusiapakah dia sebenarnya.
“Boleh saya mengetahui nama saudara?” Tanya Rasulullah.
“Hem,” lelaki itu mendengus. Kasar perangainya, tetapi lembut roman mukanya. “Orang kampung memanggilku Zaidulkhail. Zaid si Kuda Jalang.”
Rasulullah menduga namanya Cuma Zaid. Lantaran tindak-tanduknya seperti kuda liar, maka oeh masyarakat diberi gelar khail, kuda. Untuk itu Rasulullah lantas bersabda, “Namamu yang layak adalah Zaidulkhair, yangbertambah kebaikannya,bukan Zaidulkhail.”
Julukan baru ini merupakan penghargaan Nabi kepada lelaki itu. Hingga para sahabat pun ternganga menyaksikan sikap Nabi yang sangat hormat terhadap pria asing tersebut.
“Apa pun julukanky, tidaklah terlalu penting,” sanggah orang aneh itu tanpa perubahan roman muka. Tetap kekar dan keras. “Yang terpokok, jawab dulu pertanyaanku. Apakah cirri-ciri orang yang disukai Allah , dan apa cirri-ciri orang yang dibenci Allah?”
Nabi tidakmenjawab serentak. Ia balik bertanya:
“Dapatkah kauungkapkan perasaanmu ketika bangun tidur?”
Tanpa berpikir lagi orang itu, yang telah menempuh perjalanan Sembilan kali seratus kilometer, segera menjawab, “Setiap bangun tidur pada pagi harimula-mula yang kurasakan adalah keinginan untuk melakukan kebajikan, dan rindu dengan orang-orang yang senang berbuat baik. Lalu aku menginginkan, seandainya aku bisa mengerjakan kebajikan, hendaknya yang kuharapkan hanya pahala dari Allah semata, dan bukan balasan manusia. Sebaliknya, jika aku tidak dapat menanam kebajikan, remuklah dadaku, redamlah hatiku. Aku amat berduka cita bila tidak menjumpai orang-orang saleh.”
Nabi tersenyum dan berkata, “Kalau benar keadaanmu demikian, itulah cirri-ciri manusia yang disukai Allah. Adapun yang dibenci-Nya adalah mereka yang ketika banguntidur sudah berencana hendak berbuat maksiat serta ingin bersuka ria bersama para ahli maksiat.”
Itulah mungkin yang melatarbelakangi ucapan Nabi dalam salah satu hadisnya:
“Barangsiapa pagi-pagi sudah bersedih memikirkan urusan dunianya, berarti pagi-pagi sudah marah kepada Allah. Dan barangsiapa merendah-rendah kepada orang kaya hanya lantaran melihat kekayaannya, lenyaplah duapertiga agamanya,” (Nashaihul Ibad).
Rindu berbuat baik dan rindu dengan orang-orang yang senantiasa berbuat baik, itulah pula kerinduan penganut tasawuf murni. Di dalam hatinya terendam kesucian itikad, sehingga apabila dihadapkankepada dua pilihan, ia akan mengambil yang terbaik bagi kebersihan dirinya. Dan sepanjang keyakinannya, bahwa kesucian hanya diperoleh di dalam kebenaran, maka dia ebih mencintai kebenaran daripada dirinya sendiri. Sebab, betapapun pahitnya kebenaran, sebetulnya itulah yang bakal mengaruniakan jaan keselamatan.
Karena itu tidaklah layak mencurigai kaum sufi yang mengisi sebagian umurnya dengan beruzlah serta berkhalwat. Uzlah dalam pengertianmengungsi atau memencilkan diri dari kehidupan ramai manakala kehidupan ramai itu tidak menjanjikan apa-apa kecuali maksiat dan kejahatan. Khalwat dalam pengertian menyepi agar kebisingan dunia tidak mengganggunya untuk berdekat-dekat dengan Allah, pada waktu dunia sekitarnya tidak lagi merupakan tempat yang tenang untuk bermunajah kepada-Nya. Dalam hal ini kaum sufi tetap berpegang pada ajaran Nabi yang lewat salah satu hadisnya pernah bersabda:
“Beruntunglah orang-orang yangmengasingkan diri. Yaitu orang-orang saleh yanghidup di tengah-tengah kaum buruk, tempat para pelaku kejahatan lebih banyak daripada kaum yang taat.”
Namun, tiap pribadi toh bisa mengukur keyakinan masing-masing. Sejauh mana ia mampu atau tidak mampu mengubah corak sekelilingnya. Dan sejauh mana ia kuat atau tidak kuat menghadapi pengaruh sekitarnya.
Tentu saja bagi mereka yangmemiliki keberanian dan kekuatan adalah lebih mulia terjun si lembah kemesuman untuk mengubah kaumnyaagar kembali ke jalan kebenaran. Namun, bukankah keputudan beruzlah serta berkhalwat itu jauh lebih mulaia daripada hanyut dalam gelimang dosa dan noda? Bukankah Rasulullah pernahmengingatkan:
“Akanmuncul kelak pada akhir jaman orang-orang yang sampai hati mereguk dunia dengan agama. Mereka berpakaian bulu diomba tanda bertakwa di muka manusia. Lidah mereka lebih manis daripada madu, tetapi hati mereka seperti hati serigala.”
Agar tidak terjerumus kedalam golongan inilah para sufi kemudian mengambil jalan uzlah dan khalwat. Dan kita yang tidak berminat mengikuti cara mereka bukankah bisa menganut salah satu alternatif? Kalau kalian melihat kemungkaran di depan mata, cegahlah dengan tangan atau kekuatan. Bila tidak sanggup, cegahlah dengan perkataan. Jika ini tidak mampu juga, cegahlah dengan hati. Tetapi,jangan terkejut. Mencegah kemungkaran denganhatiadalahselemah-lemahnya iman.
Jadi?
Biarlah kita kuatkan keyakinan bahwa Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Dan semoga kita termasuk yang diampuni dan disayangi-Nya, di tengah libatan dunia yang nyaris porak-poranda ini, sambil berjuang dan berdoa. Sebab yang dituntut dari kita, manusia, adalah berusaha sekedar batas kemampuan masing-masing. Itulah tasawuf kaum awam. (*)

Friday, November 14, 2014

MAKNA DARI AKAD NIKAH .
WAJIB di BACA!!Ketika suatu saat dirimu akan menikah dgn seseorang , ataupun saat ini kau sdah terikat dalam sebuah pernikahan.
Tentunya pernikahan itu melewati proses AKAD-NIKAH bukan? Yang intinya berbunyi ;

''aku terima nikahnya si dia binti ayah si dia dengan Mas Kawinnya ,,,,,,,''Singkat, padat dan jelas.

Tapi tahukan makna 'perjanjian/ikrar'' tersebut ? Ini diaa -->''maka aku tanggung dosa2nya si dia dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yg telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat.
Semua yg berhubungan dgn si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yg menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak2ku''.
Jika aku GAGAL?''maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku''.
(Hadist Riwayat Muslim) Duhai para istri,,Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu, karena saat Ijab terucap, Arsy_NYA berguncang karena beratnya perjanjian yg di buat oleh manusia di depan ROBB nya, dgn di saksikan para malaikat dan manusia, maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu.
Ku tulis kata-kata ini, biar kita semua tau betapa besarnya pengorbanan dan tanggung jawab/beban sang ayah, atau laki-laki !!Jangan baring ketika azan, nanti jenazah kita berat. Dan, jangan bercakap ketika azan, nanti kita tak dapat mengucap ketika hendak meninggal dunia.
Rasulullah bersabda, "Sebarkan walaupun sepotong daripada ayatku...
Banda Aceh, 17 Agustus 2014


Kepada Yth:
            PIMPINAN
PT. Harian Rakyat Aceh
Jln. Hasan Saleh
di
            Banda Aceh


Dengan Hormat,
Bersama surat ini, saya mengajukan permohonan di perusahaan Bapak/Ibu sebagai Karyawan Layout Komputer. Saya telah menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Komputer Jurusan Teknik Informatika dan saya sangat tertarik untuk bekerja di perusahaan Bapak/Ibu  pimpin. Untuk melengkapi syarat lamaran maka turut saya lampirkan biodata tentang diri saya sebagai berikut :

Nama                              :  Zulfikar, S.Kom
Tempat/Tanggal Lahir    :  Ms. Geudong, 28 Maret 1989
Pendidikan                     :  S1 Teknik Informatika Universitas U’budiyah Indonesia
Alamat                           :  Jln. Laks. Malahayati, Desa Baet-Baitussalam
                                          Kab. Aceh Besar

Demikianlah surat permohonan yang saya buat, dan tak lupa saya sertakan pula :
  1. Photo Copy Ijazah
  2. Curriculum vitae
  3. Pas Photo 4 X 6 2 Lembar
  4. Photo copy KTP
  5. Photo copy SIM C
  6. Photo Copy Sertifikat Terlampir


            Besar harapan saya agar diterima bekerja di perusahaan Bapak, atas pertimbangan Bapak/Ibu saya ucapkan terima kasih.



Hormat Saya,




            ZULFIKAR