Suatu ketika, Rasulullah SAW mewanti-wanti agar umatnya mampu
mengekspresikan rasa malu kepada Allah SWT dengan sebenarnya. ‘’Istahyû
minallâhi haqqalhayâi (Malulah kalian kepada Allah dengan
sebenar-benarnya malu),’’ sabda Rasulullah. Mendengar Rasulullah
bersabda, kemudian sahabat berkata, ‘’Yâ nabiyallâhu innâ lanastahyî wal
hamdulillâh (Wahai Nabi Allah, sungguh kami telah merasa malu).’’
Kemudian,
Rasulullah bersabda, “Laisa dzâka, walakinal istihyâ’a minallâhi
haqqalhayâi antahfadharra’sa wamâ wa’â wa tahfadhalbathna wamâ hawâ
watatadzakkaralmauta walbilâ. Faman fa’ala dzâlika faqadistahyâ
minallâhi haqqalhayâi (Bukan itu yang aku maksud! Akan tetapi, malu
kepada Allah yang sebenarnya itu, kamu menjaga kepala dengan segala yang
dikandungnya, menjaga perut dengan segala isinya, dan senantiasa
mengingat maut dengan segala siksanya. Barang siapa melakukan semua itu,
ia telah merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya).’’
Perasaan
malu ialah salah satu benteng yang sangat efektif untuk menghindarkan
kita dari segala bentuk perilaku buruk. Kita tidak akan berkata kotor,
kasar, dan cabul karena kita merasa malu. Kita tidak akan membuang
sampah sembarangan karena kita merasa malu. Kita menutupi aurat karena
merasa malu. Sebagai insan berakal, ketika kita berselisih dengan
sesama, menyelesaikannya menggunakan logika dan akal sehat, tidak dengan
cara-cara fisik karena kita merasa malu.
Sementara, makna dari matan
hadis ‘’menjaga kepala dengan segala isi yang dikandungnya” adalah
menjaganya dari kebiasaan berpikir buruk (negative thinking), menjaganya
dari pengetahuan atau informasi palsu, dan kritis terhadap pengetahuan
atau informasi yang diterima. Dari siapa pun pengetahuan atau informasi
itu datang, harus diolah secara kritis, sehingga yang tersimpan hanyalah
pengetahuan yang bersih, benar, dan ilmu yang mencerahkan, bukan
pengetahuan sesat dan menyesatkan.
Adapun, makna dari matan hadis
“menjaga perut dengan segala isinya”, yakni menjaga perut dari makanan
haram yang sudah jelas terlarang, baik zat atau cara memperolehnya, dan
menjaganya agar tidak diisi secara berlebihan, sekalipun oleh makanan
yang halal.
Kemudian, makna dari matan hadis “senantiasa mengingat
maut dengan segala siksanya”, yakni dengan kondisi kehidupan yang
pragmatis, materialis, hedonis, dan konsumerisme menyebabkan manusia
sangat gandrung dengan kesenangan dunia, seolah lupa pada kematian.
Padahal, Allah SWT berfirman, “Di mana saja kamu berada, kematian akan
mendapatkanmu kendati kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS
an-Nisa [4]: 78).
Gandrung terhadap kemewahan duniawi tidak boleh
memalingkan kita untuk selalu ingat pada kematian dan memperbanyak bekal
untuk kehidupan akhirat. Dengan rasa malu kepada Allah, insya Allah,
kita akan mendapatkan kebahagiaan hakiki di akhirat.
Islam
mengajarkan bahwa rasa malu merupakan bagian dari iman. Sabda Nabi SAW,
al-hayâu’ min al-îmân, bahwa perasaan malu adalah sebagian dari iman.
Malah, dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan, iman dan rasa malu
merupakan sesuatu yang tak terpisahkan. Al-îmanu wa al- hayâu’ quranâu’
jamî’an, faidzâ rufi’a ahaduhuma rufi’a al-âkharu (Iman dan rasa malu
senantiasa bersama, apabila salah satunya hilang maka hilanglah yang
lainnya). (HR Hakim dan Thabrani). Ini artinya, ekspresi malu dalam
keseharian itu merupakan cermin kualitas keimanan kita.
Di dalam
aktivitas keseharian, ekspresi rasa malu ditujukan kepada sesama manusia
dan Allah. Dari dua ekspresi rasa malu ini, tentu saja nilai ekspresi
rasa malu tertinggi adalah ekspresi rasa malu kepada Allah. Ekspresi
rasa malu kepada-Nya membuat ekspresi rasa malu kita, kepada sesama
menjadi bermakna. Bagaimanapun besarnya ekspresi rasa malu kepada
sesama, jika tidak dibarengi dengan ekspresi rasa malu kepada-Nya,
ekspresi itu tidak memiliki arti apa-apa di hadapan Allah. Wallâhu
a’lam. (int)