Sunday, November 23, 2014

Kepada Yth : Calon Mertua ditempat.
Prihal : pengembalian pinjaman Putri Anda.

“DENGAN HORMAT”
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita terhadapTuhan Yang Maha Esa, yang mana atas ridhaNya kita bisa berkomunikasi sebagaimana adanya.
Sehubung dengan adanya, kesalahan pada Putri bapak/ibu, yang dimana telah membuat dada saya terasa nyesek dikarenakan sesuatu hal,dengan berat hati saya kembalikan kepada bapak/ibu, UTUH (tak ada yang kurang satu apapun), dengan harapan Putri bapak/ibu bisa bersikap lebih dewasa dan bisa menghargai perasaan saya.Dan soal waktu yang telah kami lalui bersama, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.Awalnya juga ga saling kenal dan sekarang anggap aja ga pernah kenal,intinya, terima saja kenyata’an, bahwa kami tidak berjodoh.Sekian dan terima kasih, kurang lebihnya harap maklum.Hormat Saya.
(. . . . . .)
Tertanda.
Calon mantu yang ga jadi
Perhiasan seorang wanita bukanlah Emas atau Permata, tetapi,
Dua rakaat menjelang Subuh..
Dahagamu di tengah hari yang panas karena puasa.
Derma yang tersembunyi yg hanya diketahui oleh Allah..
Air mata tobat, sujud panjang di atas karpet ibadah.

Dengan kecantikanmu,
Engkau lebih elok daripada Matahari...
Dengan Ahklakmu.
Engkau lebih wangi daripada harum minyak misik...
Dengan rendah hatimu.
Engkau lebih tinggi daripada bulan...
Dengan kelembutanmu.
Engkau lebih halus daripada rintik hujan...

Jagalah Kecantikanmu dengan Keimanan,
Kerelaanmu dengan rasa puas diri,
Dan harga dirimu dengan jilbab.

Pakailah pakaian takwa, Engkau akan menjadi wanita tercantik di dunia meski bajumu terkoyak...
Kenakanlah mantel kesantunan, Agar engkau menjadi wanita tercantik di dunia walau tanpa alas kaki..

Disetiap tempat engkau menemukan kegelapan dalam hidupmu...Tidak ada langkah yang paling tepat Kecuali Engkau nyalakan pelita dalam dirimu.
Pada suatu hari Fatimah bertanya kepada Rasulullah, siapakah perempuan yang bakal masuk surge pertama kali. Ia mennjawab, seorang perempuan yang bernama mutiah. Fatimah terkejut, ternyata bukan dia seperti yang dibayangkannya. Mengapa orang lain, padahal ia adalah putrid Nabi?
Karena itu, timbul keinginannya untk mengetahui siapa Mutiiah itu. Apakah gerangan yang diperbuatnya sampai mendapat kehormatan yang begitu tinggi?
Sesudah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, Fatimah berangkat mencari rumah Mutiah. Putranya yang masih kecil, Hasan, menangis ingin ikut. Maka digandengnya Hasan.
Tiba dimuka rumah Mutiah, Fatimah mengetuk pintu dan memberi salam, “Assalamualaikum….!”
“Alaikumsalam! Siapa diluar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya,Fatimah, putrid Rasulullah.”
“Alhamdulillah alangkah bahagianya saya hari ini. Fatimah sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Kali ini nyata lebih gembira lagi, dan makin dekat ke pintu.
“Sendirian, Fatimah?”
“Aku ditemani Hasan”
“Aduh, maaf ya,” suara itu terdengar menyesal. ”Saya belum mendapat izin untuk menemui tamu laki-laki”
“Tapi Hasanmasih kecil.”
“Meskipun kecil, Hasan laki-laki. Besok saja datang lagi, saya akan minta izin kepada suami saya,” sahut Fatimah tak kurang kecewanya.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Fatimah minta permisi.
Besoknya dia datang lagi. Kali ini Husain diajak juga. Bertiga dengan anak yang masih kecil itu. Fatimah mendatangi rumah Mutiah. Setelah member salam dan dijawab dengan gembira, Mutiah berkata dari dalam,”Jadi denan Hasan, Fatimah? Suami saya sudah member izin.”
“Ya. Dengan Hasan dan Husain”
“Ha? Mengapa tidak mengatakannya dari kemarin? Yang dapat izin cuma Hasan. Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerima juga.”
Hari itu pun Fatimah gagal betemu. Hanya besok harinya dia disambut baik oleh Mutiah dirumahnya.
Keadaan rumah itu sangat sederhana. Tidak ada satu pun perabotan mewah. Namun, semuanya tertata dengan rapi. Tempat tidur yang terbuat dari kayu kasar itu pun bersih sekali. Alasnya putih, agaknya baru dicuci. Bau di dalam sangat segar, membuat orang betah dirumah.
Fatimah kagum melihat suasana rumah yang sangat menyenangkan itu sehingga Hasan dan Husain yang biasanya tidak begitu betah berada dirumah orang, kali ini tampak asyik bermain-main.
“Maaf ya, saya tidak bisa menemani Fatimah duduk sebab saya sedang menyiapkan makan buat suami saya,” kata Fatimahsambil sibuk di dapur.
Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya.lalu ditaruhnya diatas nampan, Mutiah mengambil cambuk, cambuk itu pun ditaruhnya diatas nampan. Fatimah bertanya, “Suamimu kerja dimana?”
“Di ladang.”
“Penggembala?”
“Bukan, bercocok tanam.”
“Tapi mengapa kau bawakan cambuk juga?”
“Oh itu,”sahut Mutiah seraya tersenyum. “Cambuk itu saya sediakan untuk keperluan lain. maksud saya begini. Kalau suami saya mau makan, saya tanya suami saya apakah masakannya cocok atau tidak. Kalau bilang cocok, tak kan terjadi apa-apa. Tetapi, kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya agar dicambuknya punggung saya sebab tidak bisa menyenangkan hati suami.”
“Atas kehendak suamimu kau bawa cambuk itu?”
“Oh sama sekali tidak. Suami saya adalah orang yang pengasih. Ini semua semata-mata kehendak saya agar saya tidak menjadin istri durhaka.”
Mendengar penjelasan ini Fatimah lantas permisi pulang. Dalam hati ia berkata, pantas kalau Mutiah, perempuan yangmasuk surge buat pertama kali, karena baktinya kepada suami begitu bwsar dan tulus. Perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang perbudakan wanita oleh pria. Justru sebaliknya, merupakan citra dan cermin bagi ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama. (*)

Thursday, November 20, 2014

Abunawas sudah muak melihat kemungkaran di depan matanya. Sultan sebetulnya orang baik, tetapi para pejabat kerajaan lainnya adalah orang-orang yang rakus. Mereka belum merasa cukup dengan gaji yang sudah tinggi. Dengan segala daya mereka berusaha mengeduk keuntungan sebanyak-banyaknya, halal atau pun haram. Kas negara digerogoti sedikit demi sedikit. Dan para menteri bersekongkol dalam perbuatan curang itu.cerita-islami.com_hadiah-bagi-pemeras
Pada suatu hari, setelah mendapat izin dar Sultan, Abunawas pun berangkat ke istana. Di pintu gerbang ia dicegat oleh penjaga.
“Mau ke mana?” tanya penjaga yang seram itu.
“Menghadap Sultan,” jawab Abunawas.
“Tidak bisa! Sultan sedang sibuk,” jawab si penjaga ketus.
“Tolong carikan jalannya. Pokoknya tahu beres.”
“Ada, ada. Ja;an selalu ada.” Sahut penjaga itu dengan mata berkilat-kilat gembira. “Asalkan engkau ada kebijaksanaan kepadaku.”
“Oh , soal itu jangan khawatir. Saya datang meminta hadiah dari Sultan.”
“Nah, itulah maksudku. Asal tahu sama tahu.”
“Aku sudah cukup kaya. Hadiah itu akan kuberikan semua kepadamu.”
Maka dengan membungkuk dan ramah tamah Abunawas dipersilahkan masuk. Di dalam istana Sultan sedang mengadakan pertemuan dengan para menteri. Tapi menerima laporan bahwa Abunawas datang, Sulatan tampak gemira. Memang ia sudah menunggunya. Sultan menjemput sendiri ke balairung.
“Masih tetapkah pendirianmu bahwa engkau bisa mengatasi kesulitan negara ini?” tanya Sultan.
“Ya,” jawab Abunawas tegas.
“Berani engkau menerima hukuman mati jika gagal?”
“Pantang saya menelan ludah kembali.”
“Dan apa permintaanmu kalau berhasil?”
“Saya minta hukuman cambuk sepuluh kali.” Jawab Abunawas tegas.
“Hukumancambuk?” tanya Sultan keheranan.
“Betul,” jawab Abunawas. “Tapi bukan untuk saya. Untuk penjaga pintu gerbang istana Tuanku.”
Abunawasw lalu menceritakan tentang kelakuan penjaga pintu. Sultan sangat murka mendengarnya dan mengangguk-angguk tentang permintaan itu.
Kemudian para dayang diperintahkan untuk menukar pakaian Abunawas yang sudah usang . barulah ia diizinkan hadir dalam persidangan para menteri.
Ketika Abunawas muncul dengan pakaian bersih dan baru, Sulatan heran. Karena pici yang dipakainya masih tetap pici yang buruk dan tidak keruan warnanya.
“Mengapa picimu tidak kau tukar, Abunawas?” tanya Sultan.
“Maaf ini pici wasiat. Kita bisa melihat bayangan surge di dalamnya,” jawab Abunawas.
“Betulkan itu? Awas kalau kau bohong,” hardik Sultan.
“Betul. Cuma ada syaratnya. Yaitu hanya orang-orang jujur yang tidak pernah mencuri uang negara bisa melihat surge di dalamnya. Orang-orang yang curang, para pengkhianat pasti tidak akan menampakkan apa-apa.
Sulan berbisik-bisik, akhirnya ia berkata,”Hai, Menteri Abbas, kau kukenal jujur. Ambil pici Abunawas, dan coba buktikan. Nampakkah surge itu?”
Menteri Abbas gemetar. Selama ini telah banyak uang negara dimakannya. Dia takut ketahuan belangnya. Maka dengan muka pucat diambilnya pici Abunawas yang butut itu. Masya Allah, baunya bukan main busuknya. Mana sudah penuh daki dan noda-noda keringat. Tidak ada apa-apa di situ. Apalagi bayangan surge, bayangan neraka juga tidak ada.
“Bagaimana menteri Abbas?” tanya Sultan.
Menteri Abbas ketakutan. Sebenarnya ia memangtidak melihat apa-apa. Tapi kalau dijawab apa adanya, dia takut Sultan mengetahui kecurangannya. Maka dia menjawab terpatah-patah, “Hebat, hebat.  Surge yang indah. Bidadari berlari-lari ke sana kemari.”
Sultan merasa sangat takjub. Ia memerintahkan Menteri Harun untuk melihatnya. Menteri tersebut begitu pula. Sudah sibolak-baliknya pici itu, namun hanya bau busuknya yang menusuk hidung. Tapi kalau menceritakan yang sebenarnya, ia khawatir Sultan marah karena memergoki ketidakjujurannya. Padahal nyatanya Menteri Abbas bisa melihat surge itu. Kalau ia tidak melihat, berarti bakal terbukti korupsinya. Jadi ia pun menjawab dengan pura-pura kagum:
“Masya Allah, jannafun-na’im,jannatul-firdaus.betul-betul tempat yang indah, rindang, mata air susu mengalir di mana-mana,” kata Menteri Harun sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Para menteri lainnya juga berlaku sama. Sultan makin heran. Maka saking ingin melihat sendiri buktinya, buru-buru pici itu diambildan diperhatikannya.sultan malah jadi tidak mengerti. Menteri-menterinya melihat surge itu. Sedangkan dia merasa tidak pernah makan uang negar secara tidak halal. Mengapa dia tidak melihat apa-apa dalam pici Abunawas itu?bahkan ia terbersin-bersin mencium baunya.
“Hai, Abunawas,” hardik Sultan. “Para menteriku semuanya melihat surge dan isinya dalam picimu. Tapi aku sendiri tidak melihat apa-apa kecuali bekas-bekas keringatmu. Jadi mereka jujur, dan akulah yang pengkhianat?”
Abunawas bangkit dari duduknya. Dengan tajam para menteri ditatapnya seorang demi seorang. Lalu ia berkata:
“Wahai, Sultan yang adil dan bijakasana. Pantas negeri ini kacau terus melarat. Karena menteri-menteri semua penjilat dan penipu. Mereka mengatakan melihat surge di dalam pici saya karena mereka merasa bersalah dan telah mengkhianati kepercayaan Sultan. Mereka takut kepada bayangan sendiri, bayangna kepalsuan dan keculasan mereka.”
Dengan penjelasan ini maka Abunawas mendapat hadiah dari Sultan, yaitu hukuman cambuk sepuluh kali yang kemudian ditimpakan kepada penjaga pintu gerbang istana yang suka minta uang suap  itu. Semua menteri yang tidak jujur itu pun dipecat dan dihukum setimpal. Dipilihlah menteri-menteri baru yang betul-betul punya itikad murni berbakti kepada negara. (*)

BY. RAKYAT ACEH / JPNN

Wednesday, November 19, 2014


PARA istri yang suci hatinya, sesekali saat suamimu terlelap,
pandanglah wajahnya. Itulah wajah orang yang tak punya
hubungan darah denganmu, tapi kini terus berusaha untuk
mencintaimu.

Sesekali saat suamimu pulang kerja atau kembali
dari tempat usahanya, pandanglah wajahnya. Cium tangannya.
Itulah tangan yang bekerja keras mencari rezeki untuk memberi
nafkah dirimu. Padahal, sebelum akad nikah, ia tak punya
hutang budi sama sekali kepadamu.
Sesekali saat kau sendiri, ingat-ingatlah wajahnya. Itulah
wajah orang yang mungkin turut diseret ke neraka jika dirimu
melakukan maksiat. Sebab, ia turut bertanggung jawab atas
agama dan akhlakmu. Padahal, sebelumnya lelaki itu tak
mengenalmu.
Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu
dengan tatapan sayang. Itulah pribadi yang boleh jadi selalu
berusaha menutupi masalah-masalahnya di luar rumah, agar
kau tak turut sedih karenanya. Ia berusaha menyelesaikan
masalahnya sendiri, agar kau tak ikut terbebani. Sementara,
kau sering mengadukan masalahmu kepadanya, berharap ia
mau mengerti dan memberi solusi. Padahal, bisa jadi saat itu
masalahnya lebih besar daripada masalahmu. Namun, dirimu
tetap diutamakannya.
Ingatkah doa yang dulu ia ucapkan saat pertama kali kalian
salat bersama? Di malam pengantin itu, saat tangan suamimu
gemetar memegang ubun-ubunmu, ia membaca,
“Allahumma inni as`aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa
a’udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi.
Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang
ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan
tabiat yang ia bawa.”
Sudahkah kebaikan-kebaikanmu kau bawa untuknya?
Untuk para calon istri saleha, jadikan baktimu kepada
suami sepenuh air di samudera, agar berbalas ridha dan
cinta Sang Maha Pencipta. Ikhlaskan baktimu karena
Allah, berusahalah dengan cara yang terbaik. Lakukanlah
untuk mendapatkan ridha suamimu, agar Allah pun ridha
terhadapmu.
“Jika seorang wanita menegakkan salat lima waktu,
berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kesuciannya dan
mematuhi suaminya maka akan dikatakan kepadanya (di Hari
Pengadilan), ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu yang kamu
sukai!’”(HR. Ahmad)